Relaxing Electronic Music

Buat beberapa orang, musik sangat memengaruhi mood. Apa yang dia dengar akan dengan mudah dicerna dan lebur dalam perasaannya. Mungkin para penyuka musik orkestra klasik paham yang saya maksud.

Memang sepertinya ada beberapa teori mengenai warna suara, frekuensi gelombang suaranya, pengaruh sumber suara (stereo atau mono), dan lainnya. Kalau saya dapat infonya, akan saya coba bagikan.

Seperti yang ada pada judul, saya menemukan musik yang asik di channel Youtube. Judul videonya: Relaxing electronic music for studying concentration 2015 . Chanel Youtube milik: Best Music Compilation

Musik di video ini sangat enak menurut saya. Membuat tenang. Mau coba? Silakan: (catatan, video ini berdurasi 1:05:49)

 

Advertisements

Aku masih sangat hafal nyanyian itu

Aku masih sangat hafal nyanyian itu

Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama

sejak kita di sekolah rakyat

Kita berebut lebih dulu menyanyikannya

ketika anak-anak disuruh menyanyikannya di depan kelas satu persatu

Aku masih ingat

betapa kita gembira saat guru mengajak menyanyikan lagu itu bersama-sama Continue reading Aku masih sangat hafal nyanyian itu

Pertemanan, Inspirasi, dan Apresiasi

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan apresiasi yang sangat menyenangkan. Beliau saya panggil dengan Om Tik. Saya mengenal beliau dari pertemanan di timeline Twitter, dengan akunnya @tiktwit. Saya menyukai membaca tulisan beliau baik yang di timeline twitter atau pun di blognya. Sungguh pria yang bersahaja dan penuh inspirasi. Silakan teman-teman mengunjungi blog Om Tik di sisihidupku.wordpress.com. Sekali lagi, terima kasih atas inspirasi yang diberikan, Om Tik.

Di bawah ini, izinkan saya mengutip tulisan dari Om Tik mengenai saya Continue reading Pertemanan, Inspirasi, dan Apresiasi

Perempuan Tua Itu

Peringatan: SIAPKAN NAPAS BUATAN…! Membaca cerita ini bisa menyebabkan jantung berdebar kencang tidak beraturan, sesak napas, dan butuh pelukan!

Kamar Fiksi Mel

 

 

Katanya, perempuan tua itu kembali muncul. Aku tak pernah melihat bagaimana ia. Bagiku ia hanya semacam tokoh cerita dongeng yang diceritakan Sibu atau Bapak untuk menakutiku agar aku menurut. Tapi kali ini Yu Semi yang cerita: beberapa orang melihatnya berjalan melewati jalan setapak desa pagi tadi. Ah, kurasa ia hanya perempuan tua asing yang kebetulan lewat desa ini.

Sejak gunjing pagi itu menyebar, seharian ini pula Desa Kerto Raharjo sepi. Tak ada kesibukan seperti hari-hari biasa. Suasana mencekam. Yu Semi yang bersuara cempreng itu tak nampak keluar nyanyi-nyanyi ketika menjemur baju-baju yang barusan dicucinya. Pintu rumahnya dikunci dan jendela-jendela rapat ditutup. Tak hanya rumah Yu Semi sebenarnya, hampir semua rumah di sepanjang jalan kecil ini tertutup rapat.

Perempuan tua itu Mbah Darmo. Entah darimana asalnya. Sibu pernah bilang Mbah Darmo tinggal di kaki gunung Merapi. Penampilan Mbah Darmo juga tak jauh beda dengan perempuan-perempuan tua desa: berkebaya, mengenakan jarik motif…

View original post 2,058 more words

Dengarlah

“Mendung, Dengarlah Puisi Cinta,

Cinta Kita, Cinta Tanpa Batas…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kalimat indah dari rangkaian 5 judul lagu yang ada di album CD The Vuje.

Ini pertamakalinya aku membuat review tentang musik.

Semoga, bahasanku masih semerdu alunan lirik dan musiknya The Vuje.

.

Pertama kali aku mendengar karyaThe Vuje, saat kompetisi Lagumini (Lagumini adalah pengembangan dari karya Fiksimini yang dibuat dalam bentuk musik pendek dengan durasi + 1 menit). The Vuje adalah salah satu pesertanya. Salah satu lagu yang aku dengar dan langsung ‘klepek-klepek’ itu yang judulnya “Dengarlah“. Dengarlah adalah lagu berkekuatan magis yang pernah mampir ditelingaku. Sepenggal lirik, musik dengan tempo yang mesra, dan ruang untuk cerita-cerita tentang apa-dan-siapa. Yup.. kombinasi yang mematikan dalam keindahan mendengar lagu. Setidaknya, menurutku 🙂

.

Ini Dengarlah, lagumini yang aku maksud:

.

Setelah itu, satu per satu aku mendengar karya mereka, dan pada akhirnya, CD The Vuje beredar.

.

Musik atau album musik yang menarik menurutku adalah:

  • musik yang ‘sabar’ (sabar yang aku maksud, tidak menonjolkan ego dalam perannya masing-masing, sehingga porsinya jelas),
  • komposisi instrumen yang tidak berlebihan (tidak terlalu banyak instrumen, pun kalau memang banyak, harus sesuai kebutuhan),
  • pemilihan dan setting karakter instrumen yang baik (tone-nya jelas),
  • mixing yang baik sehingga detil instrumennya bisa terdengan dengan jelas.

Album The Vuje ini, masuk dalam kategoriku, bahkan lebih baik dari yang sebelumnya pernah aku dengar.

.

BEfGkPnCQAE4OTb

Album The Vuje berisi 10 lagu:

1. Cinta Tanpa Batas
2. Just
3. Mendung
4. Puisi Cinta
5. Tak Biasa
6. Hukum Kekekalan Tawa
7. Hentikan
8. Hunny Bunny
9. Dengarlah
10. Cinta Kita

.

Cinta…! Cinta masih hal umum yang bisa dimengerti oleh siapa pun di muka bumi ini. The Vuje juga membawa tema cinta ke dalam karyanya. Tapi, bila kamu mencoba untuk mengenali lebih dalam dari lirik-liriknya, kamu mungkin akan menemukan sisi cinta yang lebih luas. Itulah yang menjadi daya tarik dari karya The Vuje ini. Puitis…

.

Jadi, silakan kamu memanjakan telinga dan jiwamu dengan alunan lirik dan musik yang puitis dari The Vuje. Untuk pemesanan, bisa dengan mention @TheVuje atau langsung via email ke vuje_08(at)yahoo(dot)com  , dengan format yang bisa aku sarankan:

  • nama pemesan:
  • akun twitter pemesan: (kalau ada)
  • jumlah pesanan:
  • nama penerima: (mungkin kamu mau mengirimkan sebagai hadiah ke ~uhuk~uhuk~ seseorang :D)
  • alamat jelas penerima: [komplek, gedung, perumahan], nama jalan, nomer, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Provinsi, Kode Pos (ini penting)
  • nomer telepon: (nomer yang bisa dihubungin sehubungan dengan proses pengiriman)

Lalu tunggu informasi lanjutan atau konfirmasi dari The Vuje atau salah satu personil mereka.

.

Sukses selalu untuk The Vuje…!

.

catatan:

Link Soundcloud dari akurn soundcloud The Vuje.

Gambar sampul dan CD The Vuje dari Twittpic akun @rrdk_

Fatwa Pujangga

telah ku terima surat mu nan lalu

penuh sanjungan kata merayu

syair dan pantun tersusun indah, sayang

bagaikan sabda fatwa pujangga

 

kan ku simpan surat mu nan itu

bak pusaka yang sangat bermutu

walau kita tak pernah bersua, sayang

cukup sudah tanda mu setia

 

tapi sayang, sayang, sayang, seribu kali sayang

kemanakah risalahku ku alamatkan

semogalah dek kau tak putus asa, sayang

pasti kelak kita kan berjumpa.

 

terimalah jawapanku ini

hanyalah doa restu Ilahi

moga lah Dik kau tak putus asa, sayang

pasti kelak kita kan bersua

 

[sebuah syair lagu nan syahdu karya S. Effendi]

Nyanyian Angsa ~ W.S. Rendra

Nyanyian Angsa ~ W.S. Rendra

Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:

“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kapadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”

(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).

Jam dua-belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak mega.
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”

(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.)

Jam satu siang.
Matahari masih dipuncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
“Mau mengaku dosa.”
“Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya untuk berdo’a.”
“Saya mau mati.”
“Kamu sakit?”
“Ya. Saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur. Ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
“Ya.”
“Santo Petrus!”
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya.”
Dan muka pastor menjadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
“Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa.”

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.)

Jam tiga siang.
Matahari terus menyala.
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
ia kepleset kotoran anjing.
Ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.
Di dekat pasar ia berhenti.
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang.
Lalu berjalan menuju ke luar kota.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)

Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
Keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
Ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: “Bedebah.”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).

Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup.
Matahari turun.
Haripun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan.
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.

(Malaekat penjaga firdaus
tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaekat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)

Jam tujuh. Dan malam tiba.
Serangga bersuiran.
Air kali terantuk batu-batu.
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka.
Dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku.
Ia tak mau melihat mataku.
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)

Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
Borok. Sipilis. Perempuan.
Bagai kaca
kali memantul cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.

Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
“Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
“Aku tahu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding padaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya.)

~~~

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

%d bloggers like this: